Salim Segaf : Jabatan Menteri Adalah Rahmat

Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan susunan menteri Kabinet pukul 10 tadi malam, banyak para calon menteri terpilih mengucapkan alhamdulillah sebagai tanda syukur atas jabatan yang disandangnya. Sebagian lagi bahkan melakukan sujud syukur.
Ucapan selamat, peluk-cium dari istri-suami, anak dan sanak saudara pun menjadi warna tersendiri di rumah-rumah calon menteri terpilih. Uniknya, Menteri Sosial Salim Segaf al-Jufri berbeda dengan menteri lainnya. Ketika namanya disebut sebagai Menteri Sosial saat diumumkan SBY, dia justru mengucap Inna lillahi.
Saat nama Salim Segaf Al-Jufri disebut Presiden Yudhoyono pada urutan ke-21, pria kelahiran Solo, 17 Juli 1954 itu mengucapkan "Inna lillahi …Walhamdulillah". Sesaat setelah itu, Salim menghampiri kedua orang mertuanya, dan mencium tangan mereka.
Salim menegaskan tugas departemen sosial sangat besar sehingga harus diselesaikan bersama-sama. "Bangsa ini masih menghadapi persoalan besar yang harus kita selesaikan bersama-sama. Sebagian saudara kita juga masih banyak yang hidup kurang sejahtera. Tugas Departemen Sosial sangat berat," ungkap cucu Pendiri Organisasi Al-Khairaat, dari Palu, Sulawesi Tengah.
Politisi PKS ini berjanji sejak hari pertama menjadi Menteri Sosial dirinya siap bekerja keras. "Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Itu prinsip revitalisasi yang akan kita kembangkan," jelas Mensos.
Zainun Kamal, dosen program studi Pemikiran Politik Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan jabatan merupakan rahmat dan tanggungjawab moral. Karena itu, seorang pejabat harus bisa mempertanggujawabkan moralnya yaitu keadilan dan kebenaran. Jabatan harus diyakini sebagai suatu kebenaran.
Karena itu, jabatan harus dipertanggungjawabkan seperti keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat bawah yang tertindas secara ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. “Jabatan merupakan rahmat karena diamanatkan suatu tanggungjawab atau kepercayaan untuk berbuat lebih banyak untuk orang lain,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (22/10).
Lebih jauh Zainun mengisahkan Umar Bin Khattab saat diangkat menjadi khalifah. Umar mengatakan, tidak ada yang kuat di hadapan saya kecuali menjadi lemah, dan tidak ada yang lemah kecuali menjadi kuat. “Artinya, Umar benar-benar berjanji untuk menjalankan kebenaran dan keadilan,” ujarnya.
Zainun kembali menegaskan jabatan harus disyukuri karena merupakan satu tanggungjawab yang berat. Karena itu penerima jabatan berjanji menjalankan tugasnya sebaik-baiknya.
Ditanya apakah ucapan Inalillahi sudah ada presden dalam sejarah Islam pada saat jabatan diemban, “Para khalifah Islam tidak pernah mengucapkan Innalillah wa innalillahi rojiun,” tukasnya.
Zainun menilai jabatan yang diemban KIB jilid II, sekarang tidak sepenuhnya ideal. Pasalnya, jabatan tersebut diberikan kepada orang yang memang benar-benar berharap mendapatkannya. “Agama mengajarkan, orang yang mengharapkan jabatan jangan dikasih,” tukasnya.
Seharusnya, orang yang mendapatkan jabatan merasa takut mendapatkan jabatan. Nabi mengatakan, orang yang meminta-minta jabatan jangan dikasih dan jangan dikasih juga orang yang tidak pernah berharap sama sekali. “Jabatan harus diorientasikan pada niat tulus untuk memberikan manfaat bagi masyarakat banyak,” pungkasnya.[sw]
inilah.com
Berita "Sosok" Lainnya
Hidayat Sembunyi, Hidayat Dicari |
Kedepankan Moral dan Dakwah |
Si Anak Panah Ke-3 PKS |
Hidayat: Pemimpin Harus Mengerti Umat |
Hidayat Nurwahid Tak Minat Jabat Ketua MPR Lagi |
![]() | Tidak ada komentar tentang artikel ini | ![]() |
kirim ke teman
versi cetak
